Aturan Dasar Dalam MotoGP

Aturan Dasar Dalam MotoGP

Pengertian soal peraturan dasar pastinya menambah kenikmatan saat menyaksikan balap motor MotoGP, Itu berlaku tak hanya saat Anda menonton di trek secara langsung, tapi juga ketika Anda menjadi salah satu dari jutaan pasang mata yang menyaksikan via televisi.

Daftar lengkap dari regulasi dan kode-kode MotoGP bisa didapatkan di laman resmi FIM. Di sini Combropedes akan menjabarkan peraturan dasar balap MotoGP yang ada di laman resmi mereka.

Apabila seorang pembalap menyalahi peraturan di trek atau membantah instruksi bendera yang dikibarkan, itu bisa mengakibatkan bermacam hukuman tergantung dari beratnya pelanggaran yang dilakukan pembalap itu. Bisa hanya berupa peringatan, sanksi, berubahnya posisi start, pemotongan waktu putaran, didiskualifikasi, atau pengurangan poin di klasemen.

Ride Through Procedure
Penalti Ride Through Procedure akan diterapkan jika seorang pembalap, sebagai contoh, sudah menjalankan motornya sebelum lampu hijau saat start menyala. Pembalap itu akan mengaspal di pit lane. Saat di pit lane pun dia tidak boleh melebihi batas kecepatan yakni 60 kilometer per jam.

Jika pembalap itu melebihi batas kecepatan, bendera hitam akan dikibarkan pertanda didiskualifikasinya pembalap itu dari lomba. Setelah penalti Ride Through Procedure diterapkan, bendera kuning akan diangkat sambil menunjukkan angka si pembalap saat garis finis, dan informasi itu juga akan ditampilkan pada papan waktu.

Race di Kondisi Basah dan Kering
Race Direction-lah yang menentukan sebuah lomba apakah bertipe basah atau kering, tapi juga melibatkan FIM, IRTA, dan Dorna. Sebuah papan akan ditunjukkan di grid untuk memperlihatkan status race. Jika tidak ada papan yang diperlihatkan, lomba otomatis bersifat kering.
Tujuan dari hal ini untuk membuat para pembalap bersiap dalam menghadapi kondisi saat race. Sebuah bendera putih akan dikibarkan jika Race Direction mengubah status dari balapan kering menjadi basah.

Dan aturan main pada motoGP juga sempat mengalami perubahan pada tahun 2016 , perubahan peraturan untuk musim 2016 yang telah ditetapkan oleh Komisi Grand Prix, yang terdiri dari Carmelo Ezpeleta (CEODorna, Ketua), Ignacio Verneda (CEO FIM), Herve Poncharal (Asosiasi Tim Balap Motor Internasional/IRTA) dan Takanao Tsubouchi (Asosiasi Manufaktur Motor Sport/MSMA).
Komisi Grand Prix rutin mengadakan beberapa pertemuan setiap tahunnya dan berwenang mengubah segala peraturan balap Grand Prix –MotoGP, Moto2, dan Moto3– jika diperlukan.

Sejauh ini kami melihat ada beberapa peraturan yang bisa mengubah peta persaingan di kelas teratas, MotoGP, musim mendatang sehingga menarik untuk dikaji, seperti pemasangan sayap, jatah mesin, bobot motor, pemasok ban, dan penggunaan electronic control unit (ECU). Kami akan sedikit mengulas perubahan-perubahan itu.

Electronic Control Unit (ECU)
Setelah selama beberapa tahun tim MotoGP terbelah dalam kategori pabrikan (factory)dan terbuka (open class), mulai tahun depan Komisi Grand Prix memutuskan menghapus pengkategorian tersebut. Semua motor MotoGP akan menggunakan electronic control unit(ECU) yang sama yang diproduksi oleh Magneti Marelli. Demikian dikutip dari Autosport.
Sebelumnya, tiga tim pabrikan –Yamaha, Honda, dan Ducati– bisa mengembangkan ECU masing-masing.
Akan tetapi Komisi Grand Prix memberikan hak istimewa kepada tiga tim pabrikan –Yamaha, Honda, dan Ducati– berkaitan dengan perubahan pada ECU maupun perangkat lunaknya.
Setiap perubahan pada ECU harus mendapat persetujuan dari ketiga pabrikan itu. Artinya, jika salah satu menolak maka perubahan tidak bisa dilakukan.
Kemudian, jika ketiga pabrikan itu meminta sebuah perubahan dalam ECU maka Magneti Marelli mesti mengubahnya, dengan biaya ditanggung bersama ketiga pabrikan itu.

Bobot Motor
Komisi Grand Prix memutuskan berat bersih motor minimal, tanpa pebalap, pada 2016 nanti diturunkan satu kilogram, dari 158kg menjadi 157kg. Laman Marca mengabarkan penurunan berat tersebut dilakukan untuk memenuhi keinginan para pebalap.

Bobot kotor motor juga akan berubah karena untuk musim 2016 jumlah bahan bakar untuk semua motor ditetapkan maksimal 22 liter. Kecuali jika terjadi penggantian motor karena hujan atau jika bendera merah (red flag) berkibar dan pebalap mesti kembali ke garasi masing-masing.
Sebelumnya, tim pabrikan hanya dijatah 20 liter sementara tim yang masuk kelas terbuka mendapatkan 24 liter.

Pemasangan ‘sayap’
Pada musim 2015, Yamaha dan Ducati beberapa kali memasang komponen baru pada motor mereka berupa sebuah sayap di fairing depan. Demi keselamatan, Komisi Grand Prix, seperti dikutip MotoGP.com, memutuskan sayap yang terintegrasi harus memiliki radius minimal 2,5 mm.
Hingga saat ini belum ada penjelasan, baik dari Ducati maupun Yamaha, mengenai seberapa besar pengaruh sayap tersebut pada performa motor dan pebalap.

Pemasok Ban Tunggal
Tahun ini secara resmi pabrikan Jepang, Bridgestone, telah memutuskan untuk hengkang dari gelaran MotoGP usai menjadi pemasok tunggal sejak 2009. Sebagai gantinya, jenama Prancis, Michelin, akan kembali ke MotoGP setelah hengkang usai musim 2008, seperti diwartakan RideApart.

Menyongsong musim 2016, Michelin telah melakukan 11 tes bersama tim pabrikan dan pebalap, termasuk tes tambahan di Sirkuit Aragon, Spanyol, pada September, yang melibatkan 14 pebalap.
Hingga kini Direktur Teknik Michelin Racing, Nicolas Goubert, seperti dikutip dari MotoGP.com menyatakan bahwa Michelin masih mencari data untuk keseimbangan yang tepat antara kinerja yang baik dengan konsistensi ban. Tentunya tak lepas dari analisis dan komentar para pebalap yang telah melakukan uji coba.

Michelin akan menambah diameter lingkar ban menjadi 17 inci (sebelumnya Bridgestone menggunakan diameter lingkar 16,5 inci) dan masih tetap akan menggunakan ban dengan standar kebutuhan balap, yakni kompon keras (hard compound), kompon sedang (medium compound), dan kompon lunak (soft kompon). Untuk tipe asimetrik hinga extra hard/soft compound, masih belum dapat diinformasikan.
Komisi Grand Prix mewajibkan semua tim untuk mengembalikan semua ban ke pemasok resmi, Michelin, usai setiap balapan ataupun uji coba.

Penggunaan Mesin
Motomatters menyatakan negosiasi mengenai jumlah mesin yang bisa digunakan dalam satu musim ini berjalan cukup alot. Kubu Jepang –Yamaha, Honda, dan Suzuki– ingin agar penggunaan mesin dibatasi hanya enam unit dalam satu musim berjalan, sementara kubu Italia –Ducati dan Aprilia– meminta sembilan mesin dalam satu musim.

Dorna mengusulkan sebuah kompromi dan akhirnya semua pihak sepakat pada angka tujuh mesin dalam satu musim. Selain itu, pengembangan mesin pada pertengahan musim tetap dilarang.
Akan tetapi peraturan ini tidak berlaku bagi semua tim. Untuk tim-tim yang belum pernah naik podium pada musim 2013-2015 diperkenankan menggunakan 12 mesin dan melakukan pengembangan mesin saat musim berjalan, sesuai dengan aturan mengenai poin konsesi.

Poin konsesi adalah keistimewaan yang diberikan oleh MotoGP kepada beberapa tim agar balapan berjalan secara kompetitif. Poin ini diberikan kepada para tim yang belum pernah menang saat balapan berlangsung dalam kondisi kering di musim sebelumnya.
Mereka yang mendapat poin ini diberikan keistimewaan seperti bahan bakar maksimal lebih banyak, jumlah mesin yang digunakan dalam satu musim lebih banyak, dan boleh melakukan pengembangan mesin saat musim berlangsung.
Selain mereka yang belum pernah menang, Komisi Grand Prix juga memberikan poin konsesi ini kepada Ducati, Suzuki, dan Aprilia.

Tags: , , , , , ,
Situs Togel Online Terpercaya

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan