Berbeda Ibadah Kurban di Indonesia dan Australia

Berbeda Ibadah Kurban di Indonesia dan Australia

ilustrasi gambar Berbeda Ibadah Kurban di Indonesia dan Australia
COMBRO PEDAS -Sama seperti halnya jutaan umat MUSLIM di dunia, umat Islam di Australia tak ketinggalan untuk merayakan Idul Adha dengan berkurban. Tetapi tak seperti di negara mayoritas Muslim lain, berkurban di Australia bisa terasa berbeda.

Hasil Kurban

Dibagikan ke Luar Australia

Banyak organisasi Islam di Australia membagikan daging kepada mereka yang membutuhkan di luar negeri.

“Mengidentifikasi warga di Australia yang berhak mendapatkan kurban adalah hal yang sulit, karena di Australia, kita memiliki sistem bantuan kesejahteraan,” jelas Baha.

Berdasarkan pengalamannya bekerja di organisasi bantuan Islam, jika seandainya ada yang teridentifikasi pun belum tentu mau menerima kurban atau bantuan keuangan.

“Banyak orang merasa malu, misalnya, untuk maju dan bilang atau ingin menjadi bagian dari program kurban.”

“Bahkan, misalnya, jika ada pencari suaka asal Myanmar atau Suriah, kita coba menjangkau mereka… dan kita diberi tahu jika mereka baik-baik saja, sudah dibantu, dan tidak membutuhkan apapun”.

Membantu Orang Lokal

Islamic Relief Australia telah menyalurkan program selama 30 tahun.

Baha mengatakan organisasinya telah bekerja dengan berbagai pihak di luar negeri yang terlibat dalam berkurban, mulai dari peternak, agen, pusat penyembelihan, sampai penyalur.

Ia juga mengatakan setelah daging disalurkan, tidak ada bagian dari tubuh hewan kurban yang dibuang begitu saja.

Misalnya saja kulit yang kemudian diolah menjadi bahan baku produk sepatu atau tas, atau bagian tubuh lainnya yang dijadikan pupuk.

“Semua bagian dari hewan ternak digunakan dan dimanfaatkan oleh banyak pihak dalam komunitas. Semuanya dipakai untuk mendukung perekonomian warga.”

Mengikuti Aturan Ketat

Baha mengatakan Islam memiliki aturan ketat soal bagaimana hewan diperlakukan, dikenal dengan istilah halal, bukan hanya cara memotongnya.

“Misalnya, hewan yang hendak disembelih tidak di depan atau dilihat hewan-hewan lainnya. Kedua, pisau yang digunakan untuk menyembelih haruslah sangat tajam,” jelas Baha.

“Dilakukan dengan cara yang cepat, tanpa memutilasi tubuh, atau menyebabkan rasa sakit lain bagi hewan.”

Ia juga mengatakan hewan yang akan dikurbankan tidak boleh memiliki cacat, seperti buta, pincang, atau sakit.

“Bagi mereka yang menganggap berkurban adalah sebagai bagian dari kekejaman, penyembelihan sejatinya terjadi setahun penuh.”

“Hewan-hewan ternak disembelih untuk memenuhi permintaan. Karenanya, tidaklah adil jika satu perayaan ini saja yang dianggap sebagai bentuk kekejaman terhadap binatang.”

sumber-combropedas.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *